(iainfmpapua.ac.id) – Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) Fakultas Tarbiyah IAIN Fattahul Muluk Papua menggelar kegiatan Visiting Lecturer bertema “Transformasi Pembelajaran Sains Abad 21” di Aula Fakultas Tarbiyah, Kamis 11 Juni 2026.
Kegiatan ini menghadirkan Guru Besar FMIPA Universitas Negeri Makassar (UNM), Prof. Dr. Dra. Andi Asmawati Azis, M.Si, sebagai narasumber.

Dekan Fakultas Tarbiyah IAIN Fattahul Muluk Papua, Dr. Zulihi, M.Ag, dalam sambutannya menyampaikan bahwa tema yang diangkat sangat relevan dengan arah pengembangan Prodi PGMI saat ini. “Kita hidup di era di mana guru MI/SD dituntut tidak hanya kuat secara pedagogik dan keislaman, tetapi juga literasi sains,” ujarnya. Ia menegaskan bahwa tantangan pendidikan di Papua membutuhkan pendekatan pembelajaran yang kontekstual dan dekat dengan kehidupan peserta didik.
“Tantangan kita di Papua jelas, bagaimana mengajarkan sains yang membumi. Bagaimana menjelaskan fotosintesis dengan daun sagu? Bagaimana mengintegrasikan nilai tauhid dalam pembelajaran IPA agar melahirkan siswa MI yang kritis, berakhlak, dan cinta lingkungan,” jelasnya.
Lebih lanjut, Dekan berharap kegiatan tersebut dapat menjadi pintu pembuka kerja sama akademik yang lebih luas antara IAIN Fattahul Muluk Papua dan Universitas Negeri Makassar. “Saya harap kegiatan ini menjadi jembatan kolaborasi, membuka jejaring akademik antara IAIN Papua dengan Universitas Negeri Makassar demi riset dan pengabdian kolaboratif. Bukan tidak mungkin ke depan kita dapat menghasilkan publikasi ilmiah bersama,” ungkapnya.
Pada kesempatan tersebut, ia juga memberikan motivasi kepada mahasiswa PGMI untuk tidak ragu mendalami ilmu pengetahuan dan sains. “Jadilah generasi guru yang tidak takut sains. Islam tidak anti sains. Ibnu Sina, Al-Khawarizmi, dan Al-Biruni adalah bukti bahwa sains dan iman bisa beriringan. Seraplah ilmu dari narasumber hari ini, lalu praktikkan dalam PPL dan kehidupan nyata,” pungkasnya.

Dalam pemaparannya, Prof. Dr. Dra. Andi Asmawati Azis, M.Si menjelaskan bahwa transformasi pembelajaran sains abad ke-21 menuntut perubahan paradigma dari pembelajaran yang berpusat pada guru menuju pembelajaran yang berpusat pada siswa.
“Di abad ke-21, pembelajaran sains harus aktif, kritis, kreatif, dan relevan dengan kehidupan peserta didik,” tegasnya. Ia menjelaskan bahwa pembelajaran sains pada masa lalu cenderung menempatkan guru sebagai pusat informasi. “Pembelajaran sains zaman dulu lebih fokus pada jawaban yang benar, bukan pada proses berpikir. Padahal yang lebih penting adalah bagaimana peserta didik membangun cara berpikir ilmiah,” jelasnya.
Menurutnya, dalam pembelajaran modern guru berperan sebagai fasilitator. “Pembelajaran sains harus berpusat pada siswa. Guru menjadi fasilitator, sementara siswa aktif membangun pengetahuannya sendiri. Sains perlu dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari dan pengalaman nyata yang mereka miliki,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa penerapan pembelajaran sains di tingkat SD dan MI dapat dimulai dari permasalahan yang dekat dengan kehidupan siswa.
“Pembelajaran sains di kelas SD/MI sebaiknya dimulai dari masalah nyata yang ditemui siswa, kemudian diarahkan untuk menghasilkan solusi, produk, atau inovasi sederhana. Dengan cara ini, sains menjadi lebih bermakna dan menyenangkan,” tuturnya.
Kegiatan yang dihadiri para dosen PGMI ini bertujuan memperkuat wawasan serta kompetensi calon guru madrasah dalam menghadapi tantangan pembelajaran sains di era abad ke-21 yang menuntut kreativitas, kemampuan berpikir kritis, dan relevansi dengan kehidupan peserta didik. Visiting Lecturer diikuti para mahasiswa PGMI dan undangan lainnya. (Za/Is/Her)




